Sistem Kode Keluarga Haji Basir

Anggota keluarga besar Haji Basir memang unik, bukan hanya karena jumlahnya yang banyak, yaitu lebih dari 700 orang, namun struktur keluarganya sendiri sedikit njelimet. Dalam strukturnya ternyata terdapat banyak percabangan di level pasangan.

Maksudnya umumnya struktur sebuah keluarga terdiri dari suami + istri + anak-anak, namun dalam kasus keluarga Haji Basir, sebuah keluarga bisa terdiri dari : suami + istri 1 + istri 2 + istri 3 + istri 4. Masalahnya bagaimana mencatat tiap anak itu bukan hanya ayahnya tetapi harus sesuai dengan ibu masing-masing.

Sejak awal Haji Basir sendiri sudah punya empat orang istri yang berbeda dan punya lebih dari 20 anak. Kalau menggunakan aplikasi family tree yang tersedia, pastinya sulit untuk dicustom. Maka solusinya harus bikin sistem  struktur keluarga sendiri biar bisa disesuaikan dengan kenyataan. 

Bayangkan bagaimana tehnik menyimpan data sebuah keluarga besar dengan jumlah tujuh ratus anggota lebih,  dengan jalur nasab yang rumit namun harus data harus terstruktur rapi dan jelas posisinya dalam hirarki keluarga.

Struktur yang unik itu bisa saja dijawab di atas poster ukuran besar A1, dimana nanti semua jaur nasab dan percabangannya digambar satu per satu, seperti melihat peta kota Jakarta. Atau bisa juga dibuat strukturnya di layar komputer pakai aplikasi ms Exel. Namun tidak enak dibaca pakai HP. Bagaimana memasukkan struktur besar itu ke dalam sebuah HP, maka itu sebuah tantangan tersendiri.

Maka untuk itu struktur besar itulah yang coba diadaptasi dalam database yang dengan nyaman bisa diakses hanya lewat HP secara online. 

Kode Unik

Untuk semua kebutuhan itu, apalagi sudah masuk ke dalam database, kuncinya harus ada id atau kode unik yang  mengandung sejumlah informasi besar namun diringkas dalam kode yang singkat, ringkas, padat dan hemat. Kode ini harus bisa dipahami oleh server bahkan bisa dijadikan pijakan dasar untuk menjelaskan posisi dan kedudukan seorang anggota dalam raksasa hirarki keluarga. 

1. Digit Pertama : Empat Istri Haji Basir

Sistem ini dimulai dari generasi paling atas, yaitu Haji Basir sendiri berserta para keempat istri beliau. Pengkodean dimulai dari keempat istri ini yang masing-masingnya diberi angka: 1, 2, 3, dan 4. Angka ini menjadi pintu masuk untuk seluruh cabang keturunan di bawahnya. Semua anggota keluarga Haji Basir pasti punya kode ini di awalnya, bisa 1,2,3 atau 4. 

Maka jika kita paham hirarkinya, cukup dengan melihat sekilas angka paling awal, seorang anggota bisa langsung dikenali jalur paling awalnya dari istri Haji Basir yang keberapa. Jika ada seorang punya kode awal 1B maka pastinya dia anak Haji Basir dari jalur istri pertama. Sedangkan jika nomor awalnya 4D, pastinya dia anak Haji Basir dari istri keempat.

2. Digit Kedua : Anak-anak Haji Basir

Digit berikutnya untuk data anak-anak Haji Basir. Kodenya bukan angka tapi huruf kapital (huruf besar) yaitu A, B, C, D, dan seterusnya. Maka anak pertama itu A, anak kedua itu B, anak ketiga itu C dan begitu seterusnya. Namun dikatakan anak pertama, kedua atau ketiga ini didasarkan ibu mereka masing-masing.

Maka anak pertama dari Hj. Rodiah itu 1A, sedangkan anak pertama dari Hj. Asmani itu 1C. Keduanya sama-sama anak pertama berdasarkan urutan dari ibu masing-masing. 

Yang jadi pertanyaan adalah kenapa nomor urut anak ini tidak pakai angka saja biar mudah mengingatnya?

Awalnya memang pakai angka, tetapi kemudian muncul kendala, yaitu ada beberapa anggota yang jumlah anak lebih dari 9 orang. Maka untuk anak ke-10, 11, 12 dan seterusnya, butuh 2 digit dan bukan lagi 1 digit. Ini pastinya sangat tidak sehat untuk sistem penomoran yang ringkas, padat dan simple.

Karena itu  caranya dibalik saja, untuk nomor urut istri pakai angka 1,2,3 dan 4 yang pastinya tidak akan sampai 10 orang.  Sedangkan untuk nomor urut anak, digunakan huruf abjad yang sampai 26 huruf. Jika ada yang punya anak sampai 20 orang, tidak jadi masalah, karena tersedia 26 slot yang tetap satu digit. 

3. Digit Ketiga : Menantu Haji Basir

Digit ketika itu kode untuk para menantu Haji Basir, baik menantu laki-laki ataupun perempuan. Kodenya bali lagi pakai angka 1, 2, 3 dan 4. Kode angka ini jadi amat berguna mengingat jika kebetulan menantunya perempuan, bisa saja anak Haji Basir itu punya lebih dari satu istri. 

Contoh, anak Haji Basir dengan kode 1B itu menikah tiga kali, maka masing-masing mendapat kode 1B1, 1B2 dan 1B3. 

4. Digit Keempat : Cucu Haji Basir

Digit keempat adalah jatah untuk para cucu Haji Basir. Kodenya kembali lagi menjadi huruf kapital alias huruf besar. Misalnya 1G1A itu adalah Ahmad Sarwat, anak ke-1 dari H. Machfuzh, yang merupakan anak ke-7 dari Haji Basir dan Hj. Rodiah.

5. Digit Kelima : Pasangan Cucu

Setelah cucu, pola yang sama kembali berulang. Digit kelima digunakan untuk menandai pasangan dari para cucu Haji Basir. Kodenya kembali menggunakan angka: 1, 2, 3, dan seterusnya, sesuai dengan jumlah pasangan yang dimiliki.

Misalnya seseorang memiliki kode 1G1A, lalu ia menikah, maka pasangannya akan diberi kode 1G1A1. Jika ia memiliki lebih dari satu pasangan, maka menjadi 1G1A2, 1G1A3, dan seterusnya. Dengan begitu, setiap pasangan tetap teridentifikasi dengan jelas tanpa tercampur dengan garis keturunan utama.

6. Digit Keenam : Cicit Haji Basir

Digit berikutnya kembali menggunakan huruf kapital untuk menandai anak-anak dari cucu, yaitu cicit dari Haji Basir. Polanya kembali ke huruf A, B, C, D, dan seterusnya.

Contohnya, 1G1A1A berarti anak pertama dari pasangan 1G1A1. Dengan melihat kodenya saja, kita bisa langsung tahu bahwa ia adalah cicit, sekaligus tahu jalur lengkap nasabnya tanpa perlu membuka data lain.

7. Digit Ketujuh : Pasangan Cicit

Digit ketujuh kembali menggunakan angka untuk menunjukkan pasangan dari cicit. Maka jika ada kode 1G1A1A, pasangannya akan menjadi 1G1A1A1. Jika lebih dari satu pasangan, maka bisa berlanjut ke 1G1A1A2, dan seterusnya.

8. Digit Kedelapan : Buyut Haji Basir

Digit kedelapan kembali menggunakan huruf kapital untuk menunjukkan anak dari cicit, yaitu buyut Haji Basir. Polanya tetap sama: A, B, C, D, dan seterusnya.

Contohnya, 1G1A1A1A berarti anak pertama dari pasangan 1G1A1A1. Dengan melihat kode ini, langsung bisa dipahami bahwa ia adalah buyut, tanpa perlu membuka data tambahan.

9. Digit Kesembilan : Pasangan Buyut

Digit kesembilan kembali menggunakan angka untuk pasangan dari buyut. Maka pasangan dari 1G1A1A1A adalah 1G1A1A1A1. Jika memiliki lebih dari satu pasangan, maka menjadi 1G1A1A1A2, dan seterusnya.

10. Digit Kesepuluh : Canggah Haji Basir

Digit kesepuluh kembali menggunakan huruf kapital untuk menunjukkan anak dari buyut, yaitu canggah.

Contohnya: 1B1A1A1A1A

Kode ini menunjukkan seorang anggota yang berada pada generasi canggah. Dengan membaca kodenya saja, bisa langsung ditarik garis nasabnya secara utuh dari atas hingga ke bawah. Jika diurai, maka:

  • 1 → jalur istri pertama (Hj. Rodiah)

  • B → anak ke-2 (H. Abdul Latief)

  • 1 → pasangan

  • A → anak pertama (H. Abdul Choliq)

  • 1 → pasangan

  • A → anak pertama (Agus Rusdiansyah)

  • 1 → pasangan

  • A → anak pertama (Dhimas)

  • 1 → pasangan

  • A → anak pertama (Danisa)

Maka tersusunlah nasabnya:

Danisa adalah anak dari Dhimas, Dhimas adalah anak dari Agus Rusdiansyah, Agus Rusdiansyah adalah anak dari H. Abdul Choliq, H. Abdul Choliq adalah anak dari H. Abdul Latief, H. Abdul Latief adalah anak dari Haji Basir dan Hj. Rodiah.

Dengan demikian, pola ini bisa terus diperpanjang tanpa batas. Selama masih ada keturunan, sistem kode ini tetap bisa menampungnya tanpa perlu perubahan struktur.

Dan yang menarik, semakin panjang kodenya, justru semakin lengkap cerita nasab yang tersimpan di dalamnya.

Kesimpulan

Kalau dibandingkan dengan sistem silsilah pada umumnya, biasanya orang harus melihat bagan, garis, panah, atau tabel yang panjang. Tapi di sini, semuanya diringkas dalam satu kode pendek. Ini seperti mengompres pohon keluarga menjadi satu baris teks yang padat makna.

Bahkan untuk keperluan teknis seperti database, sistem ini sangat efisien. Cukup pakai query sederhana seperti “LIKE 1A%”, kita sudah bisa mengambil seluruh keturunan dari satu jalur tertentu tanpa perlu relasi tabel yang rumit.

Kenapa sistem ini dipilih?

Karena ia menjawab dua kebutuhan sekaligus: kebutuhan manusia dan kebutuhan mesin. Dari sisi manusia, sistem ini mudah dipahami setelah tahu polanya. Tidak perlu hafalan yang rumit, cukup memahami ritmenya saja.

Dari sisi mesin, ini sangat ideal untuk pengolahan data. PHP dan MySQL bisa membaca pola ini “dengan mata tertutup”, karena strukturnya konsisten dan tidak ambigu. Tidak perlu tabel relasi tambahan untuk menentukan siapa anak siapa, cukup dari kode itu sendiri sudah cukup.

Selain itu, sistem ini juga fleksibel. Mau ditambah generasi ke berapa pun, tidak akan rusak. Mau ada satu orang menikah lebih dari satu kali, tetap bisa ditampung tanpa mengganggu struktur yang sudah ada. Ini yang sering jadi masalah dalam sistem silsilah biasa, tapi di sini justru sudah diantisipasi sejak awal.

Pada akhirnya, sistem kode ini bukan sekadar cara memberi nomor. Ia adalah cara berpikir. Cara melihat keluarga sebagai struktur yang hidup, berkembang, dan bisa dibaca dengan logika yang rapi.

Awalnya memang terlihat seperti kode rahasia, tapi setelah dipahami, justru terasa sangat natural. Bahkan bisa dibilang, sekali terbiasa, kita akan lebih cepat membaca kode ini daripada melihat bagan silsilah yang panjang.

Hj. Rodiah : 401    |    Sa'diyah : 52    |    Hj. Asmani : 233    |    Hj. Asyuro : 73
Total 759 orang