Nama Beliau adalah Haji Basir, setidaknya begitulah teks yang tertulis pada banyak dokumen.
Namun ada juga yang mengatakan bahwa nama Beliau itu Basyir dengan menggunakan huruf 'sy', karena merupakan hasil transliterasi dari huruf syin (ش). Kalau memang demikian, maka kata maknanya adalah : yang membawa kabar gembira.
Asal Muasal
Haji Basir adalah anak dari Haji Naip bin Baeran. Kata 'Baeran' ini boleh asalnya dari kata Ba' yang merupakan panggilan untuk orang tua seperti pak, lalu namanya adalah Eran.
Baik Haji Naip maupun Baeran bertempat tinggal di daerah Cakung Buaran Jakarta Timur. Keduanya dimakamkan di komplek pekuburan Masjid Al-Barkah Cakung Jakarta Selatan.
Haji Basir memiliki satu orang adik kandung laki-laki bernama Basar. Selain itu juga punya beberapa saudari dari lain itu.
Belajar Mengaji
Di masa mudanya Haji Basir belajar mengaji dengan cara tinggal di rumah gurunya, yaitu Haji Muhammad Sidik, di bilangan Pedurenan Masjid, Kuningan Setiabudi, Jakarta Selatan.
Setiap waktu, orang tuanya membekalinya dengan beras hasil panen sawah di daerah Cakung, yang waktu itu masih dipenuhi persawahan.
Menikah Dengan Hajjah Rodhiyah
Sampai akhirnya beliau dipungut sebagai menantu, menikah dengan ibunda Hajjah Radhiyah binti HM Siqik. Mereka kemudian mengawali hidup berumah tangga dengan amat bersahaja.
Tukang Jualan Nasi
Konon Haji Basir mencari nafkah dengan cara berjualan nasi. Hajjah Rodhiyah yang menanak nasi dan lauk-pauknya, Haji Basir yang menjajakannya dengan berkeliling memakai pikulan.
Namun lokasi yang biasa digunakan untuk mangkal adalah daerah Menteng, yang kala itu sedang banyak proyek pembangunan.
Banyak di antara para pelanggan nasi jualan Haji Basir yang merupakan para pekerja bangunan disana. Bahkan saking dekatnya, banyak juga yang jadi langganan bahkan berhutang. Bayarnya kalau pas dapat upah mingguan.
Meski demikian, secara detail administrasi, Haji Basir punya catatan yang rapi dan terstruktur. Di masa seperti itu, pedangan nasi bisa punya catatan hutang pelanggan yang rapi dan baik, tentunya amat jarang.
Maka ketrampilan Haji Basir dalam urusan pembukuan, khususnya catatan hutang, membuat pimpinan proyek yang waktu itu orang Belanda tertarik untuk mengangkatnya menjadi pegawai, khususnya dalam urusan administrasi.
Jadi Pegawai Perusahaan Development
Maka sejak itu Haji Basir berhenti jualan nasi, pindah profesi jadi pegawai perusahaan developer Belanda.
Maka jika di kemudian hari Haji Basir sampai punya sendiri perusahaan pengembang, sangat dimungkinkan karena Beliau punya latar belakang yang kuat dalam hal mengelola perusahaan pengembang.
Usaha yang dikelola Haji Basir bergerak di bidang proyek pembangunan, mulai dari membuat jalan, jembatan, termasuk bangunan rumah, masjid dan lainnya. Konon nama badan usahanya adalah CV. Haji Basir.
Untuk mendukung lancarnya usahanya, nampaknya usaha Haji Basir meluas sampai membangun juga toko bangunan material, bahkan termasuk juga punya pabrik ubin sendiri.
Banyak Bangun Masjid
Cerita yang banyak didengar, dimana pun Haji Basir sedang punya proyek pembangunan, Beliau mewajibkan para pekerjanya untuk melaksanakan shalat lima waktu. Maka di setiap lokasi, Beliau selalu mendirikan tempat shalat, entah itu berupa masjid atau mushalla.
Beberapa masjid yang berdiri rupanya peninggalan bekas tempat lokasi proyek pembangunan yang dikerjakan oleh Haji Basir dan para pekerjanya.
Di antara proyek yang Haji Basir kerjakan adalah jalan yang melintasi jembatan Semanggi, di masa kekuasaan Bung Karno.
Wajar bila secara ekonomi, kehidupan Haji Basir lumayan berkecukupan. Namun begitu proyek amal jariyah yang Beliau lakukan juga tidak kurang.
Banyak diceritakan bahwa Haji Basir ikut juga membangun Masjid di Kwitang, Pesantren Lemah Abang, termasuk juga Masjid di depan kediaman Beliau di Pedurenan Masjid.
Pendidikan Agama
Anak-anak Haji Basir rata-rata dibekali dengan pendidikan agama yang ketat. Banyak dari mereka yang disekolahkan di sekolah agama, di antaranya Madrasah Jami'at Khair Tenabang.
Yang lainnya masuk pondok pesantren, baik Lemah Abang di Bekasi, ataupun juga Pondok Modern Gontor, Ponorogo, Jawa Timur.
Shalat berjamaah setiap hari adalah acara wajib di rumah Haji Basir, khususnya dari Maghrib sampai Isya'. Setelah itu diakhiri dengan makan bersama-sama.
Maka kalau orang yang sudah kenal Haji Basir, tidak akan berani bertamu ke rumahnya antara Maghrib danIsya'. Karena tidak akan dibukakan pintu, atau malah dimarahi habis-habisan.
Haji Basir adalah seorang muhibbin. Beliau banyak punya hubungan dengan para habaib di Jakarta khususnya. Habib Abdurrahman Kwitang salah satunya.
Kalau sudah menjamu para habaib, Haji Basir seperti tidak ada hitung-hitungan. Rumah Haji Basir di Pedurenan sudah jadi langganan para habaib kala itu. Mereka senang dengan Haji Basir yang banyak uang dan amat royal kepada mereka.
Maka hubungan anak-anak Haji Basir dengan para habaib pun terjalin sejak lama.
Madrasah
Sebeleum wafat, Haji Basir punya cita-cita ingin mendirikan madrasah tempat untuk mengajarkan ilmu agama bagi masyarakat. Sayangnya belum sempat tercapai, Allah SWT memanggilnya di tahun 1971.
Namun beigtu anak-anak Beliau sepakat untuk meneruskan cita-cita mulia. Mereka pun sepakat menyisihkan sebidang tanah yang nantinya akan dikelola menjadi madrasah.
Ketika Haji Machfuzh Basir, salah putera Haji Basir yang belajar di Cairo pulang di tahun 1972, tanah itu kemudian ditetapkan sebagai wasiat Haji Basir.
Maka kemudian didirikanlah madrasah oleh Haji MAchfuz Basir bersama-sama dengan keluarga, sebuah lembaga pendidikan agama. Dimulai dari teras rumah, kemudian mulai dibangun bangunan di atas tanah wasiat Haji Basir.
Pada tahun tahun 1976, secara resmi madrasah itu mulai diresmikan secara dengan nama Madrasah Daarul-Uluum.
Makam
Haji Basir dimakamkan di halaman rumahnya di Pedurenan Masjid, dimana sebelumnya sudah ada makam mendiang istri Beliau yang pertama, yaitu Hajjah Rodhiyah binti HM. Sidik.
bersambung
NOTE : Tulisan ini masih berupa rintisan awal, banyak yang masih harus divalidasi, dikoreksi dan juga masih harus dilengkapi.